Latah Memang Melelahkan, Ini Penyebab Latah dan Cara Mengatasinya

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

TENTANGKEPRI.COM – Latah termasuk kebiasaan tidak normal yang bisa terjadi pada berbagai golongan usia, baik pria maupun wanita. Latah muncul saat seseorang dikejutkan oleh suatu hal, misalnya teriakan, guncangan, ataupun benda jatuh.

Reaksi terkejut yang dialami penderita latah cenderung berlebihan dan umumnya disertai oleh salah satu perilaku berikut ini:

  • Mengulang kata atau frasa yang diucapkan orang lain (ekolalia)
  • Mengulang gerak tubuh orang lain (ekopraksia)
  • Mengucapkan kata-kata kotor atau tidak senonoh (koprolalia)
  • Melakukan gerakan tertentu yang diperintahkan orang lain (automatic obedience)

Penderita latah akan secara spontan melakukan salah satu perilaku tersebut saat mereka merasa terkejut.

Penyebab Latah

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, latah bisa dialami oleh siapa saja.

Anak-anak usia kurang dari 1–3 tahun bisa mengalami latah ekolalia atau ekopraksia saat mereka sedang belajar berbicara dan mengenal lingkungan sekitar mereka. Namun, latah patut diwaspadai jika masih terjadi pada anak berusia lebih dari 3 tahun. Hal tersebut bisa menjadi gejala autisme.

BACA JUGA:  Pendataan Terus Berlanjut, Warga Rempang Mulai Ramai Datangi Posko Tim Satgas

Sementara itu, pada orang dewasa, latah biasanya disebabkan oleh perasaan tertekan, takut, atau cemas. Saat mendengar suara keras atau merasakan guncangan hebat pada tubuh secara tiba-tiba, seseorang bisa merasa takut dan cemas hingga mengulang kata-kata atau gerak tubuh orang lain di sekitarnya.

Tak hanya itu saja, latah pada orang dewasa juga bisa disebabkan oleh faktor lain, di antaranya:

  • Gangguan komunikasi, seperti afasia
  • Demensia
  • Cedera kepala
  • Delirium
  • Sindrom Tourette
  • Kelumpuhan
  • Skizofrenia
  • Epilepsi

Berbeda dengan latah ekolalia dan latah ekopraksia yang meniru kata atau gerakan tubuh orang lain, penderita latah koprolalia akan mengeluarkan kata-kata umpatan atau kata-kata tidak senonoh. Umpatan kotor ini keluar secara tak terkendali saat mereka terkejut, di mana pun dan kapan pun.

BACA JUGA:  Wujudkan ASN Yang Profesional, BKN Gelar Rakor Evaluasi Sistem Seleksi ASN Di Lingkungan Regional XII

Nah, penderita latah koprolalia ini diduga mengalami kerusakan pada amigdala, yaitu bagian otak yang memproses rasa takut dan marah.

Cara Mengatasi Latah

Meski terkesan lucu bahkan sampai dijadikan bahan lelucon, penderita latah kerap merasa lelah ketika terus-menerus meniru kata atau gerakan orang lain. Namun, kondisi ini juga sulit dikendalikan karena mereka tidak dapat mengontrol respons tubuh terhadap gerakan fisik atau ucapan orang lain.

Penderita latah bahkan bisa melakukan tindakan yang berbahaya, seperti meniru gerakan meninju atau menendang, serta mengucapkan kata-kata tak senonoh di tempat umum yang berpotensi menyinggung orang lain.

Cara mengatasi latah sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Oleh sebab itu, penderita latah dianjurkan untuk berkonsultasi ke psikiater guna mengetahui kondisi yang membuatnya latah.

Berikut adalah beberapa penanganan yang umum dilakukan untuk mengatasi latah:

BACA JUGA:  Titipkan Pendidikan Anak ke Tokoh Agama, Rudi Ingin Batam Maju dan Keimanan Terjaga

Terapi wicara

Penderita latah ekolalia dianjurkan untuk mengikuti sesi terapi wicara guna belajar menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Terapis nantinya juga akan mengindentifikasi penyebab latah, lalu mencoba memahami mengapa penderita latah selalu mengulangi kata-kata orang lain saat merasa terkejut.

Pemberian obat-obatan

Jika latah disebabkan oleh gangguan kecemasan, gangguan kesehatan mental, epilepsi, atau sindrom Tourette, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu. Namun perlu diingat, obat-obatan ini hanya membantu mengurangi keparahan kondisi, bukan untuk menyembuhkan latah.

Jika Anda mengalami latah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk menentukan penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Namun, jika Anda mengenal seseorang yang mengalami latah, jangan menjadikannya sebagai lelucon. Berikan perhatian lebih agar ia merasa aman, nyaman, dan diterima. Bila memang perlu, sarankan untuk menemui dokter. (*)

Sumber: alodokter