Menkeu Purbaya Nilai IKN Belum Layak Jadi Pusat Finansial Internasional, Sebut Terlalu Sepi

Avatar photo
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menolak Pusat Finansial Internasional (PFI) ditempatkan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.(Dok. PT Waskita Beton Precast Tbk atau WSBP)
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menolak Pusat Finansial Internasional (PFI) ditempatkan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.(Dok. PT Waskita Beton Precast Tbk atau WSBP)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur belum layak menjadi lokasi Pusat Finansial Internasional (PFI) atau International Financial Center. Menurutnya, kondisi IKN saat ini masih terlalu sepi untuk mendukung aktivitas pusat keuangan berskala global.

“Enggak mungkin, (IKN) terlalu sepi,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7).

Purbaya mengatakan pemerintah masih mengkaji sejumlah lokasi yang dinilai lebih strategis untuk menjadi pusat finansial internasional. Salah satu daerah yang masuk dalam pembahasan adalah Bali.

BACA JUGA:  Terungkap, Pelaku Pembakaran Rumah Hakim PN Medan Ternyata Mantan Sopir

“Masih dibahas. Ada alternatif mungkin beberapa di Bali, tapi mungkin ada beberapa titik juga,” katanya.

Menurutnya, pemerintah akan memilih lokasi yang paling nyaman dan menarik bagi investor internasional.

“Yang jelas, kita akan cari tempat yang paling comfortable untuk investor internasional,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Special Financial Center sebagai pusat keuangan khusus guna memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi global di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

BACA JUGA:  Pengguna Gmail Wajib Waspada jika Dapat Link Ini, Bisa Kuras Rekening

“Rencana kita mau bikin Special Financial Center. Kita lagi cari tempat,” kata Prabowo saat memberikan pengarahan kepada jajaran menteri, wakil menteri, kepala badan, dan pejabat eselon I di Istana Kepresidenan Jakarta beberapa waktu lalu.

Prabowo menyebut gagasan tersebut pertama kali disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengusulkan Bali sebagai lokasi pusat finansial internasional.

Menurut Presiden, usulan tersebut kini semakin relevan mengingat meningkatnya minat investor global mencari negara yang stabil di tengah konflik geopolitik. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar karena dinilai sebagai salah satu negara yang aman dan kondusif untuk investasi.

BACA JUGA:  Bambang Susanto dan Dhony Rahajoe Kompak Mengundurkan Diri dari Jabatan Mereka di Otorita IKN

Prabowo juga menyinggung meningkatnya jumlah warga negara asing, termasuk dari Rusia dan Ukraina, yang menetap di Bali sejak konflik kedua negara pecah pada 2022. Kondisi itu dinilai menunjukkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi yang aman, sekaligus membuka peluang untuk menarik arus investasi internasional, termasuk dana yang sebelumnya mengalir ke kawasan Timur Tengah.