Ratu Kecantikan Meksiko Tewas Ditembak, Ibu Mertua Ditangkap di Venezuela

Avatar photo
Carolina Flores Gomez Foto: dok. Instagram
Carolina Flores Gomez Foto: dok. Instagram

Kisah tragis menimpa mantan ratu kecantikan asal Meksiko, Carolina Flores Gomez (27), yang tewas ditembak di kediamannya di kawasan Polanco, Mexico City. Kasus ini menyita perhatian publik karena pelaku utama diduga adalah ibu mertuanya sendiri, Erika Maria Herrera (63), yang disebut menyimpan konflik lama dan cemburu terhadap korban.

Carolina, yang pernah mengikuti ajang Miss Teen Universe Baja California pada 2017, ditemukan tewas pada 15 April 2026 dengan sejumlah luka tembak di bagian kepala dan tubuh. Otoritas Meksiko menangani kasus ini sebagai femisida atau pembunuhan berbasis gender.

BACA JUGA:  10 Kota dengan Populasi Paling Sedikit di Dunia, Ada yang Warganya Cuma 30 Orang

Pihak Kejaksaan Agung Mexico City mengonfirmasi Erika Maria Herrera telah ditangkap di Venezuela setelah sempat melarikan diri. Penangkapan dilakukan melalui kerja sama aparat Venezuela dan Interpol. Saat ini tersangka masih ditahan sambil menunggu proses ekstradisi ke Meksiko.

BACA JUGA:  Drama Penerbangan Menuju Dubai, 16 Jam Mengudara Tanpa Tujuan

Rekaman video yang beredar luas disebut memperlihatkan momen sebelum penembakan. Carolina terlihat berjalan di dalam rumah, lalu sang mertua mengikutinya. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan. Beberapa saat setelah itu, suami korban, Alejandro, masuk sambil menggendong bayi mereka. Dalam rekaman itu, sang ibu mertua diduga mengatakan korban “membuatnya marah” dan menuduh Carolina telah merebut putranya.

Kasus ini semakin rumit setelah muncul dugaan bahwa sang suami tidak segera melapor ke polisi hingga keesokan harinya. Otoritas kini juga menyelidiki keterlambatan laporan tersebut.

BACA JUGA:  Bumi Tambah Panas, Laut Menghangat 400% Lebih Cepat

Seorang teman dekat korban menyebut hubungan Carolina dengan ibu mertuanya memang tidak harmonis sejak awal dan memburuk setelah Carolina hamil. Kasus ini memicu kemarahan publik di Meksiko dan kembali menyoroti tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan di negara tersebut.