Malioboro Rendah Emisi akan Siapkan 400 Becak Listrik

Seniman Yogyakarta Dalijo Angkring (baju ungu) dan Angger Sukisno (baju Jawa lurik) menikmati becak di kawasan Malioboro (Foto: RRI/Yahya)

TENTANGKEPRI.COM – Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan setidaknya 400 unit becak listrik akan tersedia pada tahun 2025. Kebutuhan kendaraan umum tersebut diperlukan saat Malioboro Rendah Emisi diberlakukan.

“Kelak, kendaraan dengan bahan bakar fosil tidak boleh melewati Malioboro. Bentor yang saat ini banyak beroperasi di kawasan Malioboro akan diganti dengan becak bertenaga listrik,” kata Kepala Dinas Perhubungan DIY Sumariyoto, Senin (31/7/2023).

BACA JUGA:  Kepala BP Batam Paparkan Rencana Strategis Pengembangan Pulau Rempang

Kendaraan becak listrik yang diproduksi terdiri becak listrik wisata dan becak kayuh bertenaga listrik. Saat ini, Dishub DIY sudah memproduksi 38 unit dari rencana 400 unit becak listrik. 

Ratusan becak modern ramah lingkungan itu bakal dioperasikan tukang becak motor. Perkumpulan bentor Malioboro akan diajak bicara untuk membahas konversi becak.

“Kami rencananya memprioritaskan perkumpulan becak motor yang sudah berbadan hukum, misalnya koperasi. Nanti semua pelaku becak motor dilibatkan,” ujarnya.

BACA JUGA:  12 Ribu Pohon Jati Emas Akan Kembali Ditanam

“Kami tidak membatasi produksi becak listrik, swasta juga akan dilibatkan dalam produksi ini. Prinsipnya nanti kami memberikan rekomendasi izin, dan melakukan pengawasan kelaikan operasi becak listrik di Malioboro,” katanya lagi.

Pengaturan becak listrik diperlukan untuk memastikan wisatawan tetap mudah berkunjung ke Malioboro dan destinasi sekitarnya. Stasiun pengisian baterai becak listrik akan dibangun pada tahun 2024 di Ketandan.

BACA JUGA:  HUT RI ke-78, Amsakar Ajak Masyarakat Bulatkan Tekad Kolektif Wujudkan Kemajuan Seluruh Aspek

Sumariyoto menjelaskan Malioboro Rendah Emisi berdampak pada Trans Jogja yang memiliki trayek di kawasan tersebut. Karenanya, Trans Jogja juga akan membuat bus listrik untuk mendukung program Malioboro rendah emisi.

 “Bus Trans Jogja yang melewati Malioboro kami desain dengan tenaga listrik bukan bahan bakar fosil,” kata Sumariyoto. (*)