TIPS  

Tips Melamar Kerja di Era AI, Jangan Andalkan Lamaran Massal

Avatar photo
Berikut deretan tips melamar pekerjaan, mulai dari kurangi penggunaan AI, hingga menunda perubahan karier. (Foto: Unsplash.com/ Raw Pixel)
Berikut deretan tips melamar pekerjaan, mulai dari kurangi penggunaan AI, hingga menunda perubahan karier. (Foto: Unsplash.com/ Raw Pixel)

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) ikut mengubah cara perusahaan merekrut pekerja. Di tengah persaingan yang semakin ketat, pelamar kerja dituntut lebih selektif dan mampu menunjukkan pengalaman serta keterampilan yang benar-benar relevan.

Survei ZipRecruiter terhadap lebih dari 1.500 pencari kerja yang dilakukan pada 25 Juli hingga 12 Agustus 2026 menunjukkan 55 persen responden merasa perekrut kini memiliki kendali lebih besar di pasar kerja. Sebanyak 67 persen lainnya mengaku merasa tertekan untuk menerima tawaran pekerjaan pertama yang diperoleh.

Melansir CNBC Make It, Sabtu (26/9/2026), Kepala Ekonom Glassdoor Daniel Zhao mengatakan sejumlah strategi mencari kerja yang sebelumnya efektif mungkin tidak lagi memberikan hasil yang sama.

Berikut delapan tips yang disarankan para ahli karier.

1. Jangan Serahkan Resume Sepenuhnya kepada AI

Survei CNBC dan SurveyMonkey terhadap 1.686 pekerja pada Juli menunjukkan hampir separuh responden, atau 47 persen, pernah menggunakan AI dalam proses melamar pekerjaan. Resume menjadi salah satu penggunaan AI yang paling umum.

Namun, penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat resume terlihat seragam dengan milik pelamar lain.

Zhao menyebut banyak pelamar menggunakan perintah atau prompt serupa untuk menyesuaikan resume sehingga hasil akhirnya terdengar hampir sama.

Ahli karier ZipRecruiter, Sam DeMase, menyarankan pelamar tetap mengandalkan pengalaman pribadi dalam menyusun resume. Pengalaman yang paling relevan sebaiknya ditempatkan di bagian atas, sementara setiap poin perlu disesuaikan dengan posisi yang dituju dan menunjukkan dampak pekerjaan yang pernah dilakukan.

BACA JUGA:  Hindari Menanyakan Kalimat Ini di Google agar Tidak Kena “Hack”

AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, misalnya untuk menemukan keterampilan atau pengalaman yang belum tercantum dalam resume.

Pemimpin bidang perekrutan di Zapier, Bonnie Dilber, juga menilai lamaran yang dibuat secara personal lebih mudah menonjol dibandingkan resume yang terkesan hasil salin-tempel dari AI.

2. Jangan Terlalu Bergantung pada Cover Letter

Cover letter juga mulai dianggap kurang penting oleh sebagian perusahaan, terutama startup.

Kepala Bidang Pendidikan dan Tenaga Kerja Handshake, Julia Stiglitz, mengatakan perusahaan semakin jarang memprioritaskan surat lamaran tersebut.

Namun, cover letter tetap bisa berguna bagi pelamar dengan latar belakang yang tidak biasa. Zhao menyarankan pelamar menjelaskan secara singkat pengalaman dan alasan mengapa latar belakang tersebut relevan dengan posisi yang dituju.

Intinya, hindari penjelasan yang terlalu umum. Gunakan ruang tersebut untuk menunjukkan alasan konkret mengapa pengalaman dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

3. Hindari Melamar Secara Massal

Melamar puluhan pekerjaan sekaligus belum tentu menjadi strategi yang efektif.

DeMase menyarankan pencari kerja fokus pada posisi yang benar-benar diminati, mengaktifkan notifikasi lowongan, kemudian melamar dalam waktu sekitar 48 jam dengan resume yang sudah disesuaikan.

Menurutnya, pelamar perlu menjadi lebih spesifik dan menunjukkan keseriusan terhadap posisi yang dituju.

BACA JUGA:  Berikut 5 Cara Mudah Menghilangkan Ngantuk Setelah Makan Siang

Strategi tersebut juga dapat membantu mengurangi kelelahan akibat proses pencarian kerja yang berlangsung lama.

4. Cari Lowongan Berdasarkan Keterampilan

Jangan hanya mencari pekerjaan berdasarkan nama jabatan. Pelamar juga dapat menggunakan keterampilan yang dimiliki sebagai kata kunci pencarian.

Contohnya analisis data, kepemimpinan, copywriting, membangun relasi, hingga keterampilan teknis seperti Figma, Jira, dan Salesforce.

Menurut DeMase, pendekatan tersebut dapat membuka peluang yang sebelumnya mungkin tidak terlihat karena pelamar merasa tidak memenuhi seluruh persyaratan suatu posisi.

Fokuslah pada keterampilan yang paling dikuasai dan dapat dibuktikan melalui pengalaman.

5. Jaga Profesionalitas di LinkedIn

Profil LinkedIn menjadi salah satu bagian yang dapat diperiksa perekrut. Karena itu, pastikan informasi di dalamnya profesional dan mencerminkan pengalaman serta kemampuan yang dimiliki.

Dilber mengingatkan pelamar untuk berhati-hati dalam mengunggah konten bernada negatif atau menyerang perusahaan maupun pihak tertentu.

Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki opini di ruang publik. Namun, setiap unggahan sebaiknya dipertimbangkan karena dapat menjadi bagian dari citra profesional di dunia kerja.

6. Manfaatkan Jaringan Sosial

Jaringan profesional bukan satu-satunya sumber peluang kerja. Grup alumni, komunitas, teman, hingga jaringan sosial di luar lingkungan pekerjaan juga dapat dimanfaatkan.

Dilber menyarankan pencari kerja memperluas jaringan melalui komunitas yang sudah mereka ikuti, termasuk grup lingkungan tempat tinggal, komunitas olahraga, maupun jaringan pertemanan daring.

BACA JUGA:  Beriku 5 Cara Mengatasi Tembok Lembap dan Mengelupas

Peluang kerja terkadang muncul melalui koneksi yang tidak berada dalam lingkaran profesional formal.

7. Pertimbangkan Menunda Perubahan Karier

Pasar kerja yang ketat dapat membuat perpindahan ke bidang yang sama sekali berbeda menjadi lebih menantang.

Dilber mengatakan perusahaan cenderung mencari kandidat dengan pengalaman yang relevan dengan posisi yang tersedia. Karena itu, pelamar dapat mempertimbangkan posisi yang paling dekat dengan pengalaman dan keterampilan yang sudah dimiliki.

Fokus pada pekerjaan yang benar-benar dikuasai juga dapat membuat proses pencarian kerja lebih terarah.

8. Jangan Terlalu Sibuk Menunggu Waktu yang Tepat

Kapan waktu terbaik mencari pekerjaan? Zhao menyarankan pencari kerja tidak terlalu sibuk menunggu kondisi ideal.

Menurutnya, waktu dapat digunakan untuk berlatih wawancara, mengenali posisi yang tersedia, memperbarui keterampilan, serta memperluas jaringan.

Sementara itu, DeMase melihat pekerjaan kontrak atau sementara dapat menjadi salah satu pilihan yang patut diperhatikan, terutama ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja untuk kebutuhan tertentu menjelang akhir tahun.

Pada akhirnya, persaingan kerja di era AI membuat kualitas dan relevansi lamaran menjadi semakin penting. Penggunaan teknologi tetap dapat membantu, tetapi pengalaman, keterampilan, dan kemampuan menunjukkan kecocokan dengan posisi yang dituju tetap menjadi bagian penting dalam proses melamar pekerjaan.

Sumber: liputan6.com