Batam  

Sidang Pembobolan Uang Nasabah BRI di Batam, Hakim Pertanyakan Sosok Sefra

Sidang pembobolan nasabah Bank BRI. (Foto: AlurNews)
Sidang pembobolan nasabah Bank BRI. (Foto: AlurNews)

BATAM, TENTANGKEPRI.COM – Tiga orang terdakwa atas kasus penggelapan uang nasabah BRI Unit Batu Besar, Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, kembali disidangkan. Mereka didakwa lantaran tilap uang nasabah hingga Rp12 miliar.

Sidang yang dilakukan di PN Batam, pada Kamis (2/4/2024), terdakwa Hary, Furqon dan Fadhli memberikan keterangan di hadapan hakim. Namun ketiganya terkesan saling lempar.

“Tolong, lah, Anda (terdakwa Hary) itu berikan keterangan yang tidak berbelit-belit. Jangan menutup-nutipi. Jujur aja,” kata JPU, Samuel Pangaribuan.

Hary menyampaikan bahwa ia hanya mengurusi nasabah atas nama Sefra. Atas itu, ia diminta melakukan perubahan data namun hanya lewat seluler saja.

“Dapat uang Rp 40 juta uang ngopi dari nasabah. Saya dikirim Rp 300 jutaan. Saya tanya ini untuk apa, lewat telfon, dijawab berikan CS Rp 50 juta, Fadhli Rp 100 juta. Sisanya biarkan aja ke rekening kamu. Begitu katanya,” kata dia

BACA JUGA:  Rudi-Marlin Serahkan Cadangan Beras Pemerintah: Warga Terbantu, Inflasi Terkendali

Namun, majelis menegaskan bahwa siapa sosok Sefra itu. Akan tetapi Hary tak bisa menjawab dengan gamblang. Ia seakan-akan saling lempar kepada terdakwa lain.

“Pernah (bertemu Sefra) di Batam. Kenal. Kurang lebih setahun dengan Sefra,” kata dia.

Sementara, Furqon, dalam keterangannya, mengatakan bahwa ada namanya hak istimewa BRI yang bisa dilakukan lewat video call saja. Untuk kasus ini, Furqon mengaku melakukan persetujuan data sendiri.

“Hak istimewa BRI bisa lewat video call. Saya approve sendiri karena saya mau bantu orang ini aja,” kata dia.

Dalam menjalankan aksinya, terdakwa Furqon menggunakan user miliknya sendiri untuk membobol uang nasabah. Soal sistem, terdakwa melakukan perubahan data.

BACA JUGA:  Kepala BP Batam Terus Kembangkan Destinasi Wisata Kota Batam

Pada sidang sebelumnya, pegawai bagian IT di BRI Batam, Bary Febrianto memperkuat keterangan saksi ahli. Namun, menurut ahli, bahwa perubahan data itu tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan dari atasan.

“Perubahan data tidak akan berhasil, tanpa adanya persetujuan atau aproove dari atasannya,” kata saksi ahli.

Hakim Douglas pun mempertanyakan perihal perubahan data yang dilakukan Furqon. Bery menjawab, bahwa semua itu dapat atau boleh dilakukan dengan user sendiri, dimana satu staf mengunakan satu user.

Selanjutnya, kata Bary, saat merubah data nasabah, terdakwa Furqon mendapatkan persetujuan dari atasannya, dalam hal ini Kepala BRI Unit Batu Besar.

“Itu di-aproove atau disetujui oleh Kepala Unit, namanya Antoni. Masih menjabat hingga saat ini,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kepala BP Batam Komitmen Berikan Kemudahan Bagi Investor

Sementara itu terdakwa Harry dan Khairul, dalam keterangannya, menyebut jika uang hasil pembobolan itu hanya mereka terima senilai Rp 2 miliar.

Untuk sidang lanjutan atas kasus ini akan dilangsungkan pada 14 Mei mendatang. Agendanya yakni tuntutan dari JPU.

Dalam perkara ini, ketiganya didakwa melanggar Pasal 51 Ayat (2) Jo Pasal 36 Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Kasus pembobolan uang nasabah dua bank berbeda di Kota Batam ini berhasil diungkap Ditreskrimsus Polda Kepri. Kasus ini merupakan sindikat yang menyeret empat orang tersangka. Total kerugian kedua bank mencapai Rp26 miliar. (Arjuna/Alurnews)